| Dok.foto : Gambar ilustrasi |
BOGOR,–Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali dikeluhkan masyarakat di beberapa wilayah, terutama di kawasan perbatasan Kabupaten Bogor. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dilaporkan mengalami antrean panjang, bahkan beberapa di antaranya membatasi jumlah pembelian BBM jenis pertalite maupun solar subsidi.
Kelangkaan ini mulai dirasakan sejak beberapa hari terakhir, terutama pada jam-jam sibuk. Warga mengaku harus mengantre hingga lebih dari satu jam hanya untuk mendapatkan jatah BBM bersubsidi.
Seorang pengendara motor, Rendi (29), mengungkapkan bahwa antrean semakin parah sejak awal pekan.
"Biasanya antre sebentar, tapi sekarang bisa satu jam lebih. Kadang pas sudah sampai depan, BBM-nya habis. Kita disuruh balik lagi," ujarnya dengan nada kesal.
Keluhan serupa juga datang dari sopir angkutan barang yang bergantung pada BBM subsidi untuk operasional harian.
“Solar sering kosong, kalau pun ada paling dibatasi. Sementara kebutuhan kerja tidak bisa menunggu,” kata Iwan (42), sopir truk asal Cileungsi.
Para pengguna BBM subsidi menilai situasi tersebut berdampak langsung pada pendapatan harian mereka. Sopir ojek online, buruh harian, hingga pedagang keliling mengaku mengalami peningkatan biaya operasional karena harus mengantre berjam-jam atau membeli BBM non-subsidi yang jauh lebih mahal.
Selain antrean, beberapa SPBU disebut memberikan pembatasan pembelian untuk mengatur stok.
“Kadang cuma boleh isi Rp20 ribu, sedangkan kebutuhan saya tiap hari minimal Rp40–50 ribu,” keluh Salahudin (34), pekerja pabrik yang menggunakan motor untuk bekerja.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kelangkaan yang terjadi tidak merata. Ada SPBU yang masih memiliki stok normal, namun sebagian lainnya kosong pada jam-jam tertentu. Kondisi ini memicu spekulasi di tengah masyarakat, mulai dari adanya lonjakan kebutuhan akhir tahun hingga dugaan ketidakseimbangan distribusi.
Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memastikan penyaluran BBM subsidi tetap lancar, terutama menjelang masa liburan akhir tahun ketika mobilitas meningkat.
“BBM subsidi itu sangat penting bagi rakyat kecil. Kalau sering kosong begini, yang paling kena dampaknya ya masyarakat bawah,” ujar seorang warga lainnya.
Hingga kini, masyarakat masih menunggu kejelasan penyebab utama kelangkaan dan langkah antisipasi agar situasi tidak semakin memburuk.
(Red)

Social Header
Berita