![]() |
| Dok.foto : Istimewa suarapubliktvnews. |
CILEUNGSI|BOGOR,–Polemik masuknya ratusan ton sampah dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan ke PT Aspex Kumbong, Cileungsi, kian memanas. Kepala Desa Dayeuh, Jamhali BJ, SE, secara tegas melayangkan ultimatum keras kepada perusahaan pengelola sampah tersebut.
Ia menilai aktivitas pengiriman sampah berlangsung tanpa etika, tanpa komunikasi, dan tanpa koordinasi lingkungan, meski dampaknya langsung dirasakan masyarakat Desa Dayeuh.
“Ironis. Sampah sudah masuk, polemik sudah meledak di media, tapi sampai hari ini tidak pernah ada koordinasi resmi dengan pemerintah desa,” tegas Jamhali saat dikonfirmasi.
Menurut Jamhali, sejak awal pihak desa sudah memberi sinyal agar perusahaan menunjukkan itikad baik sebelum aktivitas pengolahan sampah skala besar dijalankan. Namun, peringatan tersebut dinilai diabaikan.
Ia menyebutkan, berbagai pertanyaan muncul dari warga terkait: dampak lingkungan, limbah air lindi, lalu lintas kendaraan sampah, hingga potensi gangguan kesehatan.
Namun, seluruh pertanyaan itu tak pernah dijawab secara resmi oleh pihak perusahaan.
“Kalau situasi semakin tidak kondusif, mengganggu lingkungan, dan merugikan masyarakat, kami tidak akan ragu untuk menghentikan aktivitas pengiriman sampah tersebut,” tandasnya.
Jamhali menegaskan, pemerintah desa memiliki tanggung jawab melindungi warganya. Jika PT Aspex Kumbong terus menjalankan aktivitas tanpa transparansi dan koordinasi, maka penghentian operasional menjadi opsi yang sangat mungkin diambil.
Sikap tegas ini dinilai sebagai bentuk perlawanan desa terhadap praktik pengelolaan sampah yang dianggap sepihak dan arogan.
Di sisi lain, pihak PT Aspex Kumbong akhirnya angkat bicara. Melalui perwakilannya, Renaldi, perusahaan mengakui belum melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa Dayeuh.
“Kami memang belum sempat berkoordinasi. Hari ini kami berencana bertemu Kepala Desa untuk menjelaskan teknis pengelolaan sampah,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Diketahui, ratusan ton sampah per hari dari Pemkot Tangerang Selatan dikirim ke PT Aspex Kumbong sebagai langkah darurat menyusul krisis sampah di wilayah tersebut.
Namun, kebijakan ini menuai penolakan di berbagai titik. Sebelumnya, warga sekitar TPA Cilowong juga melakukan protes keras, menolak sampah Tangsel akibat:
- minimnya sosialisasi,
- lemahnya koordinasi,
- serta kekhawatiran pencemaran lingkungan akibat limbah air lindi.
Masuknya sampah lintas daerah tanpa kesiapan sosial dan lingkungan kini dinilai sebagai bom waktu. Jika tidak segera diselesaikan secara transparan dan melibatkan masyarakat, konflik terbuka antara warga, desa, dan perusahaan dinilai tak terhindarkan.
Situasi kini berada di ujung tanduk.Koordinasi atau penghentian total.
(Red)

Social Header
Berita