TANGERANG,–Polemik penggunaan paving block sebagai material tambalan dalam proyek perbaikan Jalan Jenderal Sudirman, Kota Tangerang, kembali mencuat ke permukaan. Sorotan ini menguat setelah terjadi kecelakaan lalu lintas tunggal yang melibatkan seorang pengendara sepeda motor tepat di lokasi perbaikan jalan tersebut.
Kecelakaan dialami Adlynabil Maulana Syaam (18), warga Keroncong, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, pada Minggu (1/2/2026) sekitar pukul 20.30 WIB. Insiden terjadi di Jalan Jenderal Sudirman KM 13 No. 71, Kelurahan Babakan, persis di area jalan yang sebelumnya ditambal menggunakan paving block.
Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, korban mengendarai sepeda motor matic Honda bernomor polisi B 3198 COZ, melaju dari arah Pasar Induk Tanah Tinggi menuju Cikokol. Saat melintas di titik perbaikan, roda depan motor menghantam permukaan jalan yang tidak rata, akibat tambalan paving block yang dilaporkan sudah mengalami penurunan atau amblas, meski baru sekitar satu pekan dikerjakan.
Korban menuturkan, kondisi jalan di lokasi kejadian berada pada ruas menurun dan kerap dilintasi kendaraan bertonase besar. Situasi tersebut membuat tambalan cepat rusak dan berisiko bagi pengendara, terutama pada malam hari.
“Pas lewat tambalan yang sudah amblas, motor langsung kehilangan keseimbangan. Saya sampai terpelanting dua kali,” ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka serius di bagian tangan dan kaki, hingga harus dibantu rekannya untuk pulang. Ia berharap pemerintah lebih mengutamakan keselamatan pengguna jalan, bukan sekadar perbaikan sementara yang cepat rusak.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan, pada hari yang sama pascakecelakaan, PUPR Provinsi Banten kembali melakukan pemasangan paving block di titik lain sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, dengan koordinasi bersama PUPR Kota Tangerang.
Namun, metode yang digunakan dinilai masih bersifat tambal sulam, bukan perbaikan struktural menyeluruh yang sesuai dengan karakter jalan protokol berlalulintas padat dan kendaraan bermuatan berat.
Kondisi tersebut juga dikeluhkan warga sekitar. Salah seorang warga menyebut, kecelakaan di ruas tersebut belakangan semakin sering terjadi, terutama pada malam hari.
“Penerangan jalan minim, perbaikannya tidak tuntas. Ditambal, tapi cepat rusak lagi,” keluhnya.
Sebagai salah satu jalur utama aktivitas perkotaan, Jalan Jenderal Sudirman memiliki tingkat mobilitas tinggi. Warga menilai, perbaikan jalan yang tidak dilakukan secara menyeluruh justru berpotensi menciptakan titik rawan kecelakaan, terutama saat kondisi gelap dan permukaan jalan tidak stabil.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PUPR belum memberikan penjelasan resmi terkait evaluasi teknis pascakecelakaan tersebut, termasuk kepastian perbaikan permanen dan langkah mitigasi guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
(Nia)

Social Header
Berita