Berita

Breaking News

HUT ke-33 Kota Tangerang Diguncang Aksi FAM: APBD Meningkat, Layanan Publik Dinilai Jalan di Tempat

Dok.foto : Aksi Mahasiswa (FAM) di depan Pusat Pemerintahan Kota, Senin (2/3/2026).


TANGERANG,–Selebrasi hari jadi ke-33 Kota Tangerang belum sepenuhnya usai ketika suara kritik kembali menggema di depan Pusat Pemerintahan Kota, Senin (2/3/2026). Massa dari Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang menegaskan bahwa perayaan tahunan tak boleh menutupi evaluasi kinerja satu tahun terakhir.

Mengusung kritik bertajuk “APBD Naik, Masalah Tak Turun”, mahasiswa menyoroti paradoks antara kapasitas fiskal daerah yang besar dengan persoalan publik yang dinilai stagnan. Dengan anggaran lebih dari Rp6 triliun dan PAD sekitar Rp3 triliun, FAM mempertanyakan efektivitas arah belanja daerah.

“Anggaran terus bertambah, tetapi indikator kenyamanan hidup warga tidak menunjukkan lompatan signifikan. Ini bukan soal besar kecilnya dana, tapi soal keberanian membenahi sistem,” ujar Sekretaris Jenderal FAM, Akbar Ridho, dalam orasinya.

Mahasiswa menilai sejumlah persoalan strategis masih bergerak dalam pola lama. Banjir musiman tetap menghantui kawasan seperti Ciledug, Cipondoh, Karang Tengah hingga Priuk. Pengelolaan sampah belum sepenuhnya terintegrasi dari hulu ke hilir. Kemacetan menuju Jakarta terus menggerus produktivitas warga. Sementara fasilitas kesehatan daerah masih dibayangi antrean panjang.

Menurut FAM, kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan pendekatan kebijakan, bukan sekadar peningkatan anggaran tahunan.

“Kalau masalahnya berulang, berarti ada yang tidak tuntas dalam perencanaan maupun pengawasan,” tegas Akbar.

FAM juga mengaitkan tuntutan mereka dengan catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2025 yang menyoroti aspek pengendalian internal dan efisiensi belanja daerah. Bagi mereka, rekomendasi tersebut harus dijawab dengan langkah konkret, bukan hanya klarifikasi administratif.

Dalam aksinya, FAM menegaskan dua agenda utama:

  1. Membuka secara rinci realisasi anggaran berikut indikator dampaknya terhadap masyarakat.
  2. Melakukan evaluasi partisipatif atas kinerja perangkat daerah dengan melibatkan unsur independen.

Mahasiswa menyebut usia 33 tahun merupakan fase konsolidasi, bukan lagi tahap pencitraan. Mereka mendorong pemerintah kota untuk berani menggeser orientasi dari simbol perayaan menuju pembenahan struktural.

Tema “Bersama Melayani Tanpa Henti” yang diangkat dalam perayaan HUT kali ini, menurut FAM, harus diterjemahkan dalam pelayanan publik yang cepat, transparan, dan terukur.

“Serapan anggaran bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah dampaknya terasa atau tidak bagi warga,” ujar Akbar.

Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kota belum memberikan pernyataan resmi tambahan terkait tuntutan lanjutan mahasiswa.

Bagi FAM, perayaan boleh selesai, tetapi evaluasi publik justru baru dimulai. Di usia ke-33, Kota Tangerang dinilai berada di persimpangan: mempertahankan pola lama atau melakukan lompatan pembenahan yang lebih berani dan transparan.(Nia)

© Copyright 2022 - suarapubliktvnews.com