![]() |
| Dok.foto : Istimewa/suarapubliktvnews |
BOGOR,–Polemik pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, yang sebelumnya disorot karena banyak warga tidak kebagian bahan pangan, akhirnya mendapat tanggapan dari pihak kecamatan.
Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Klapanunggal, Iwan Setiawan, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi internal setelah muncul keluhan masyarakat terkait dugaan pembelian bahan pangan dalam jumlah berlebihan pada kegiatan yang digelar Senin (09/03/2026) tersebut.
![]() |
| Dok.foto : Iwan Setiawan selaku sekertaris kecamatan (Sekcam) Klapanunggal,(Istimewa/suarapubliktvnews). |
Kepada suarapubliktvnews, Selasa (10/03/2026), Iwan mengatakan pihaknya langsung menggelar briefing serta memberikan teguran kepada pihak yang diduga membeli bahan pangan secara tidak wajar.
Bahkan, pelaku diminta untuk mengembalikan barang yang telah dibeli atau mengganti dengan membayar selisih harga sesuai harga normal pasar, mengingat produk tersebut merupakan komoditas yang telah disubsidi oleh pemerintah.
“Sudah kita briefing dan kita tegur. Kita juga meminta agar barang tersebut dikembalikan atau diganti dengan uang sesuai harga normal, karena itu kan barang yang sudah disubsidi pemerintah,” ujar Iwan Setiawan.
Sementara itu, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Kasi Ekbang) Kecamatan Klapanunggal, Nurjaman, saat ditemui di ruang kerjanya mengaku pihak pelaksana kegiatan sempat terkejut dengan informasi adanya pembelian bahan pangan dalam jumlah banyak yang memicu kekecewaan warga.
Menurutnya, pihak Ekbang tidak mengetahui adanya praktik tersebut saat kegiatan berlangsung.
“Terkait informasi kemarin, kami juga sudah membahasnya dengan Pak Sekcam. Terus terang kami juga tidak mengetahui kalau sampai terjadi seperti itu,” ungkap Nurjaman.
Ia menjelaskan, sebelum kegiatan berlangsung sempat ada pihak yang mencoba menitip pembelian bahan pangan melalui panitia pelaksana. Namun permintaan tersebut ditegaskan telah ditolak.
“Awalnya memang ada yang menitip langsung ke kami selaku pelaksana di Ekbang, tapi kami menolaknya. Namun ternyata di belakang hari tetap terjadi seperti itu dan itu di luar sepengetahuan kami,” katanya.
Terkait mekanisme pembelian, Nurjaman menjelaskan bahwa kegiatan Gerakan Pangan Murah tidak menggunakan sistem kupon. Masyarakat diarahkan untuk mengantre langsung sesuai kebutuhan, dengan pembelian yang telah dibatasi.
“Tidak menggunakan kupon. Jadi masyarakat langsung antre untuk setiap item produk, dan pembelian juga tetap kita batasi,” jelasnya.
Namun setelah dilakukan penelusuran internal, pihak kecamatan menyebut pelaku pembelian berlebihan tersebut bukan merupakan staf Kecamatan Klapanunggal.
Meski demikian, yang bersangkutan diketahui berada di lingkungan kecamatan dan diduga memiliki akses langsung dengan vendor sehingga bisa mendapatkan barang lebih dulu.
“Setelah kita briefing oleh Sekcam, kami juga sudah melakukan teguran kepada pelaku pembelian yang berlebihan. Ternyata bukan staf kecamatan, tetapi berada di lingkungan kecamatan. Kemungkinan dia mengenal vendor sehingga bisa mendapat akses langsung. Di awal kegiatan dia juga sempat membantu melayani,” terangnya.
Atas kejadian tersebut, pihak Kecamatan Klapanunggal menegaskan telah meminta pelaku untuk segera mengembalikan barang yang telah dibeli secara berlebihan.
“Sesuai arahan Pak Sekcam, kami sudah meminta agar barang atau produk tersebut segera dikembalikan,” tegas Nurjaman.
Kasus ini pun menjadi perhatian publik karena program Gerakan Pangan Murah sejatinya ditujukan untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau, terutama bagi warga yang membutuhkan.
Pihak kecamatan memastikan akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan program bantuan pangan di masa mendatang.
(Red)


Social Header
Berita